Creating Today The Technology for Tomorrow
   
 Telusur Inovasi
 Membership
 Download
 Tips & Trik Hobi

 
 

PUSTAKA IPTEK

Jurnal Saint dan Teknologi BPPT

Link Terkait:
[ Resensi Buku Ilmiah ]
[ Jurnal Saint dan Teknologi BPPT ]
[ Link Perpustakaan ]

Untitled Document

V4.n5.21

JUDUL : PENDEKATAN SISTIM INOVASI NASIONAL PADA INSTANSI RISET MITRA JARINGAN KERJA ANTARA INSTANSI RISET

PENGARANG : Ramly Usman

Abstract

Innovation and technology development are result of a complex set a of relationships among actors in the system, which includes enterprises, universities, and government research instansies. For policy-makers, an understanding of the national innovation system can help identify leverage points for enhancing innovative performance and overall competitiveness. It can assist in pinpointing mismatches within the system, both among instansiions and relation government policies, which can thwart technology development and innovation. The assessment of national system has centered on four types of knowledge or information flows : 1) interactions among enterprises; 2) joint research, co-patenting, co-publications; 3) diffusion of knowledge and technology to enterprises, and; 4) personal mobility. There are certain types of flows to analysing national innovation systems, namely; 1) human resources flows; 2) instansiional linkages; 3) industrial clusters; and 4) innovation firm behavior

Katakunci : Mitra jaringan kerja antara instansi, kluster industri, kerjasama penelitian, difusi teknologi, alur mobilitas personel yang berpengalaman.

Sumber :
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol.4, No.5, (Agustus 2002), hal. 154-161 Humas-BPPT/ANY

PENDAHULUAN

Definisi dari sistim inovasi nasional adalah kerja sama antara kumpulan instansi yang berbeda dan mengkontribusi secara individual untuk mengembangkan dan mendifusikan iptek terbaru melalui suatu kebijakan yang diatur oleh pemerintah sehingga akan memberikan pengaruh dalam proses inovasi (1) .

Cara menganalisa sistem inovasi nasional adalah dengan tiga pendekatan dalam menyerap dan mengembangkan yaitu : 1). pengetahuan bermanfaat untuk kepentingan perkonomian; 2) meningkatnya penggunaan sistem pendekatan; dan 3) tingkat pertumbuhan jumlah instansi yang terlibat dalam pengembangan iptek (2) . Pendekatan sistem inovasi nasional menekankan pada aliran teknologi informasi diantara manusia, lembaga, dan institusi yang terlibat sebagai kunci dalam proses inovasi. Inovasi dan teknologi dikembangkan untuk memecahkan suatu permasalahan dalam suatu kelompok dengan kelompok lain yang terkait dari beberapa subsistem, meliputi industri, perguruan tinggi, badan penelitian (balitbang). Untuk menentukan kebijakan dalam sistem inovasi naSional ini dapat di lakukan dengan matrik titik terkait terhadap keseluruhan performansi yang ada. Hal itu dapat dikaitkan menjadi suatu sistem untuk membentuk pengembangan teknologi dan inovasi melalui suatu kebijakan dalam jaringan kerja pada masing-masing instansi dan perusahaan.

Kebijakan itu berupa kerangka kerja yang terkait dengan regulasi, pajak, pembiayaan, kompetisi dan hak keahlian intelektual yang digambarkan dalam beberapa tipe interaksi dan aliran iptek. Inovasi teknologi yang diadopsi sesuai dengan spesifikasi struktur industri dan konteks nasional. Agar lebih unggul dalam menjalankan konteks pada sistem ini, maka peran pemerintah dalam pengembangan teknologi harus diikuti dengan kebijakan yang terkini.

Pengukuran dan pengkajian sistem inovasi nasional berpusat pada 4 tipe pengetahuan atau aliran informasi 1) interaksi antara industri, kegiatan proyek kemitraan, dan bentuk lain kolaborasi teknologi; 2) interaksi antara industri, peguruan tinggi dan badan penelitian, termasuk penelitian kemitraan, kerjasama penggunaan paten, kerjasama publikasi dan keterkaitan kerjasama informal; 3) difusi iptek kepada perusahaan, adopsi teknologi, termasuk penggunaan perangkat keras maupun perangkat lunak, dan 4) mobilitas personel, yang difokuskan dalam teknikal asistensi bagi industri (umpama untuk pemberdayaan Industri Kecil dan Menengah atau IKM).

Ada bermacam-macam pendekatan untuk menganalisa sistem inovasi nasional, antara lain analisa kluster yang difokuskan pada interaksi antara jenis dan sektor industri, yang dikelompokan pada teknologi dan karakteristik jaringan kerja. Pendekatan berikutnya adalah analisa pada level yang berbeda berdasarkan sub-regional, nasional, regional dan internasional.

KESIMPULAN

(a) Implikasi kebijakan

Kajian untuk sistim inovasi nasional harus dimotorisasi dengan pembentukan dan pendekatan baru dalam kebijakan teknologi pemerintah. Sebagian besar pemerintah melakukan intervensi dalam lingkup teknologi, terutama secara langsung dalam mengoreksi kegagalan pasar, atau kecenderungan sektor publik/swasta yang kurang atau tidak mampu dalam memanfaatkan keuntungan investasi pada pengembangan teknologi. Untuk mengoptimalisasi pendapatan suatu perusahaan publik, kebijakan teknologi harus difokuskan dalam menstimulasi atau mendukung pengeluaran R&D di perusahaan melalui suatu instrumen, misalnya sistem insentif atau subsidi pajak. Konsep dari sistem inovasi nasional secara langsung kemungkinan memberikan suatu kebijakan untuk mengatur kegagalan yang tersistimatik agar performansi inovasi perusahaan lebih baik. Kekurangan dari interaksi antara pelaku dalam sistem ini, yaitu ketidak sesuaian antara penelitian dasar dalam sektor publik dan lebih teraplikasi pada penelitian dalam industri, malfungsi dari transfer teknologi industri, kurangnya penyerapan teknologi yang memberikan lemahnya performansi perusahaan.

Jenis kebijakan baru dibutuhkan adalah untuk mengantisipasi kegagalan secara sistimatik. Kebijakan ini memberikan jaringan kerja dan meningkatkan penyerapan kapasitas perusahaan. Skema jaringan kerja penekanannya diambil pada perbaikan pelaku interaksi dan kegiatan-kegiatan diantara perusahaan dan instansi dari sektor publik, Skema untuk promosi penelitian yang bermitra dengan pemerintah dalam konteks ini sangat bernilai pada pengembangan teknologi. Keunggulan dalam kebijakan teknologi itu dapat meningkatkan level dari kerjasama paten, kerjasama publikasi, dan mobilitas personel, dan pelaksanaan peraturan hak interlektual, kebijakan pasar pekerja dan perubahan program dalam memfasilitasi, umpamanya dalam kolaborasi penelitian. Kebijakan ini memperlihatkan kepentingan aliran informasi dari pengetahuan dan akses ke jaringan kerja teknik, mendukung kebijakan informasi teknologi dan implementasi dari infrastruktur. Kebijakan ini dapat memberikan nilai dorongan bagi pengembangan inovasi dan hubungan antara produsen-pengguna diantara perusahaan, dan penetapan persaingan kebijakan jaringan kerja. Dalam kondisi tertentu, kebijakan ini dapat diperluas dengan jaringan kerja inovasi dan rencana aliran iptek, keterkaitan dan mitra diantara instansi riset agar diperoleh cara yang lebih efisien.

Mempertinggi kapasitas inovasi perusahaan adalah prioritas kebijakan yang lain. Dari perspektif sistem inovasi, maksud ini adalah untuk melihat kemampuan perusahaan dalam mengakses ketepatan jaringan kerja serta mencari hubungan identifikasi teknologi dan informasi, kemudian untuk menyerap teknologi serta mengetahui sejumlah personel yang dibutuhkan. Hal tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan teknikal, manajerial, dan kemampuan organisasi dari perusahaan. Proses dilakukan melalui inovasi dalam penelitian internal dan mengembangkan pelatihan personel dan juga teknologi informasi. Jaringan kerja ini diperlukan perusahaan untuk meningkatkan kemampuan perusahaan dalam memperoleh informasi dan teknologi. Bentuk kemitraan dalam jaringan kerja ini bersifat domestik atau dengan luar negeri, dan secara berkelanjutan dapat menyerap kebutuhan dasarnya. Kebijakan teknologi yang diwujudkan dalam jaringan kerja seharusnya dapat memberikan penyebaran penggunaan peralatan dan teknologi kepada perusahaan, selain itu juga dapat meningkatkan kemampuan mereka untuk memperoleh dan menyerap teknologi bagi kepentingan usaha mereka. Kebijakan teknologi, selain membantu perusahaan yang berbasis pengetahuan teknologi, juga hal penting adalah membantu kemampuan teknologi agar perusahaan yang terwujud makin kokoh, termasuk untuk sektor pelayanan. Dalam kebijakan teknologi tidak lebih hanya terfokus pada satu industri saja, tetapi juga dapat diperluas dalam jaringan kerja dan peningkatan performansi pada sektor dari kluster industri.

(b) Masalah Pengukuran

Dari laporan laporan yang ada bahwa data-data atau informasi dari alur pengukuran pengetahuan dan pemetaan sistem inovasi nasional secara statistical datanya belum banyak teridentifikasi secara baik. Pengukuran dari distribusi pengetahuan dan interaksi sangat sulit dilaksanakan karena adanya kekurangan data atau informasi yang terkait dengan jenis kegiatan inovasi. Indikator konvensional (misalnya biaya R&D, paten, produksi & perdagangan produk tinggi) adalah cukup signifikan, sehingga secara garis besar dapat digambarkan alur pengetahuan untuk proses inovasi ini.

Melukiskan sistem inovasi nasional secara akurat cukup sulit karena kekurangan data-data atau informasi pembanding dari setiap negara. Beberapa negara secara teoritis dapat menggambarkan pandangan holistiknya lebih baik dalam akses hubungan teknologi, termasuk aliran kerja mereka pada sistem inovasi. Selain itu juga fokus lain adalah aliran (misal kegiatan R&D bersama, mobilitas personel, sumber informasi), atau faktor lain yang terkait (9) . Pendekatan kluster lebih popular dalam mengembangkan sistem inovasi, terutama mengidentifikasi dan evaluasi interaksi antara subsistem yang mewakili dari kelompok perusahaan. Pendekatan ini akan memberikan banyak pandangan untuk menentukan ketepatan level analisa, level sub-nasional, level nasional, level regional atau level internasional. Oleh karena itu diperlukan suatu wadah interaksi sistem dan eksistensi inovasi dalam memperluas semua level tersebut. Perbedaan level menambahkan interaksi untuk membandingkan lanjutan dari analisa sistem inovasi.

Penetapan hubungan antara sistem inovasi nasional dan peningkatan performansi ekonomi adalah tujuan utama. Dari banyak kajian mengenai mengenai sistem inovasi, dapat dianalisa pada hubungan tingkat interaksi antara pelaku pada hasil inovasi mereka untuk mewujudkan produk baru atau produk perbaikan, hasilnya yakni berupa paten atau produktifitas yang telah dicapai oleh perusahaan. Tetapi dalam tahap pengembangan untuk menganalisa pengaruh dampak positif sangat sulit untuk membandingkan keterkaitan data atau alur informasinya. Tahapan berikutnya yaitu menetapkan indeks antara inovasi-alur hubungan dan pengukuran performansi inovasi. Studi dari beberapa negara dapat memberikan inspirasi pengukuran aliran informasi antara level subnasional maupun nasional. Sehingga dengan demikian secara garis besar akhirnya akan dapat mengetahui kemampuan dalam mengakses tentang distribusi kekuatan pengetahuan pada sistem inovasi nasional. Dari hasil-hasil yang diperoleh dalam kombinasi indikator masukan & luaran, kemampuan inovasi lokal, negara atau regional, untuk data-data hasil pengukuran ini lebih dapat dievaluasi dan dipahami. Secara teoritis hal ini dapat memberikan kontribusi kemampuan pengetahuan teoritis yang merupakan suatu komponen kunci yang dapat mempengaruh langsung pada performansi ekonomi (10)

(c) Prospek Penelitian

Penerapan analisa sistim inovasi difokuskan pada pengukuran aliran iptek dengan menggunakan indikator yang sama. Saat ini, ada empat perbedaan penelitian pada sistim inovasi nasional yang dilakukan dalam kelompok negara OECD. Untuk membantu dalam memberikan pengertian dari beberapa jenis perbedaan aliran iptek yang dikembangkan sebagai indikator kompatibel. Pengelompokan yang dilakukan adalah sebagai berikut, yaitu :

  1. Pemetaan keterkaitan antara instansi
    Dilakukan survey dengan beberapa pertanyaan, yang digunakan untuk mengukur dan evaluasi derajat keterkaitan kualitas antara publik atau mitra kerja industri dengan pemerintah.

  2. Pemetaan alur sumber manusia
    Data pasar pekerja dan sumber informasi yang lain digunakan dalam jalur alur personel teknik antara sektor dan instansi sesuai dengan level keahlian dan kualifikasi.

  3. Pemetaan kluster industri
    Klasifikasi teknik masukan/lu untuk setiap spesialisasi/sektor industri dengan melakukan survey tentang kebutuhan inovasi dengan beberapa pendekatan. Kluster sesuai dengan klasifikasi pada kegiatan dan digambarkan secara teknikal, sektoral, dan bentuk produk yang spesifik, sehingga akan membentuk suatu jaringan pada sistim inovasi nasional.

  4. Pemetaan inovasi perusahaan
    Dilakukan survey level inovasi perusahaan, melakukan analisa dan nilai patok, misalnya pada sektor manufakturing dan jasa dengan pendekatan menggunakan standar prosedur OSLO agar diketahui apakah perusahaan telah melakukan inovasi, seberapa jauh interaksi diantara jaringan kerja bagi para pelaku yang terpeta dalam sistim inovasi nasional.