Balai Jaringan Informasi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Balai IPTEKnet) BPPT
   
 Telusur Inovasi
 Membership
 Download
 Tips & Trik Hobi

 
 

PUSTAKA IPTEK

Jurnal Saint dan Teknologi BPPT

Link Terkait:
[ Resensi Buku Ilmiah ]
[ Jurnal Saint dan Teknologi BPPT ]
[ Link Perpustakaan ]

Untitled Document

V5.N5.18

JUDUL : PERAN BIOTEKNOLOGI DALAM BIDANG KESEHATAN DAN PROSES PENGEMBANGAN PRODUK FARMASI BERBASIS BIOTEKNOLOGI

PENGARANG : Rifatul Widjhati
Pusat Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Farmasi dan Medika (P3TFM) TAB BPPT

Abstract

Biotechnology has been a significant tool for the latest progress of the development of various industrial products in the area of health and pharmaceuticals, agriculture, animal husbandary, fishery, fine chemicals and environment. Among those products, health and pharmaceuticals is the largest, accounting for 70-80% of total biotrchnology based products. In this paper, the application of biotechnology in the health and phamaceutical development was reviewed based on the recent reports on the development of new biotechnology based products. The overall process of the development of new compounds was comprehensively presented, commencing with searching and screening of targeted molecules up to the stage of FDA approval. Recommendations were made in order to make a wise choice and appropriate position of Indonesia as well as Indoneisian biotechnology scientists and policy makers regarding to the future prospect of commercial as well as scientifical biotechnology based products.

Kata kunci: bioteknologi, proses pengembangan obat baru, biopharming

SUMBER : Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia, V5. N5, Agustus 2003, hal. 136-142 /Humas-BPPT/ANY


Sejarah dan Perkembangan Bioteknologi.

Bioteknologi, sebuah perjalanan panjang kegiatan dan inovasi manusia yang selama berabad-abad, bahkan milenia, memanfaatkan mikroorganisme melalui proses fermentasi untuk membuat produk keperluan sehari-hari seperti roti, keju, bir dan anggur. Pemanfaatan bioteknologi kala itu masih sangat konvensional dan dikategorikan sebagai bioteknologi tradisional. Diawal abad 20, Fleming menemukan antibiotik penisilin, dan di tahun 1982, obat berbasis rekombinasi DNA pertama diciptakan yaitu insulin manusia yang diproduksi dengan memanfaatkan bakteri tanah, E-coli . Dipenghujung abad 20, merebak produk bioteknologi maju seperti tanaman transgenik, gene chips dan kloning mamalia. Proses pengembangan produk berbasis rekombinan DNA ini dikategorikan sebagai bioteknologi moderen. Tidak pelak lagi, beberapa dekade mendatang akan diwarnai temuan-temuan yang menakjubkan melalui kemajuan bioteknologi.

Apabila akhir abad ke 20 merupakan era teknologi informasi yang telah mampu merubah tata kehidupan manusia dari pola konvensional menjadi serba otomatis diikuti dengan tumbuh pesatnya industri berbasis komputer, maka awal abad 21 ini adalah eranya bioteknologi. Bioteknologi bak mesin ajaib, yang mampu melakukan berbagai proses penting dalam dunia industri di beberapa bidang antara lain bidang kesehatan, pangan, pertanian, industri lainnya serta lingkungan. Dibidang kesehatan, penerapan bioteknologi telah menghasilkan produk-produk penting seperti antibiotik, vaksin, hormon, kit diagnostika dan produk farmasi lainnya. Di bidang pertanian, penerapan bioteknologi mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas produk pertanian antara lain penciptaan tanaman varietas unggul tahan hama, stres, dan kekeringan. Dengan penerapan genomik, tanaman dirancang menjadi mesin produksi bagi komoditi penting seperti obat, vaksin, vitamin, hormon, dan senyawa protein aktif lainnya melalui teknologi molecular farming . Dibidang lingkungan, bioteknologi menciptakan mikroba baru yang mampu mengurai limbah atau tumpahan minyak di laut, dan mengurai kandungan logam berat dari tanah untuk keperluan penyuburan lahan. Dari keseluruhan aplikasi bioteknologi tersebut, pemanfaatan dibidang kesehatan adalah yang terbesar, yaitu sekitar 70-80%.


Kesimpulan

1. Posisi Indonesia.

Bagi Indonesia, pengembangan obat berbasis bioteknologi, masih merupakan jalan panjang yang harus ditempuh meskipun bioteknologi merupakan salah satu prioritas nasional dalam kebijakan strategi riset dan teknologi. Selain memerlukan biaya mahal dan waktu panjang, kemampuan nasional dalam konteks dana dan prasarana masih perlu ditingkatkan. Dari sisi sumber daya manusia, jumlah ilmuwan dan pakar bioteknologi secara nasional sebetulnya sudah mencukupi, namun keberadaannya tersebar diberbagai institusi riset dan pendidikan. Minimnya ketersediaan dana, prasarana dan kesempatan untuk melakukan kegiatan pengembangan bioteknologi mengakibatkan sebagian para ilmuwan bioteknologi Indonesia lulusan luar negeri mencari kerja dinegara lain untuk mendapatkan peluang kerja dengan pendapatan yang memadai.

Pilihan yang ada terpulang kepada kita sendiri. Apakah akan menjadi penonton yang manis, menjadi target pasar bagi industri biofarmasi global, pengekor dari langkah mereka, atau mulai ikut sebagai pelaku, inventor, dan inovator produk bioteknologi yang jelas akan mendominasi pasar farmasi dan kesehatan masa datang. Pilihan juga ditentukan oleh kemampuan finansial negara, yang pada saat ini lebih diperuntukkan bagi bangkitnya perkonomian kita dari keterpurukan akibat krisis yang berkepanjangan.

Namun urgensi pengembangan kemampuan nasional dibidang bioteknologi sudah lama disadari dan saat ini menjadi agenda penting dari Kementerian Riset dan Teknologi dengan dimulainya proyek nasional “Biosland”, dimana salah satu agendanya adalah pengembangan bioteknologi untuk aplikasi bidang farmasi dan kesehatan. Berdasarkan beberapa kajian dan pertimbangan strategis, politis dan ekonomis, proyek Bioisland akan dipusatkan di Pulau Batam.


2. Posisi BPPT

BPPT sebagai salah satu Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND) yang mempunyai fungsi mengkaji dan menerapkan teknologi, mempunyai kewajiban untuk memberikan kontribusi dalam menerapkan bioteknologi khususnya untuk mendukung pembangunan kesehatan di Indonesia.

Kebijakan internal BPPT mengedepankan program dan kegiatan yang bersifat segera dapat dirasakan “ outcome” nya melalui aplikasi teknologi pada industri skala kecil maupun menengah. Kebijakan internal pula yang membatasi setiap proyek yang masih bersumber pada dana pemerintah (dana DIP) hanya 3-5 tahun saja. Berdasarkan kebijakan tersebut, program pengembangan obat baru belum menjadi prioritas. Pengembangan obat baru saat ini masih menjadi domain dari perusahaan biofarmasi global. Bersaing dengan mereka, adalah pilihan yang kurang tepat, karena ibarat semut melawan gajah.

Namun demikian, peningkatan kompetensi bioteknologi BPPT harus juga dikedepankan. Untuk itu Kedeputian Bidang Teknologi Agroindustri dan Bioteknologi (TAB) BPPT mulai tahun 2003 ini melaksanakan dua kegiatan baru yang berorientasi pengembangan produk farmasi berbasis bioteknologi, yaitu :

1) Pengembangan teknologi disain obat ( drug design ) secara biologi molekuler.

2) Pengembangan produk biopharming untuk diagnostik dan vaksin dengue.

Program pertama difokuskan untuk pengembangan obat antikanker dengan memanfaatkan sumberdaya hayati Indonesia khususnya sumberdaya hayati laut. Program ini merupakan exit strategy dari hasil kegiatan yang sudah dilakukan sebelumnya yaitu penemuan beberapa senyawa yang mempunyai potensi antikanker dari biota laut.

Program kedua, pengembangan produk farmasi melalui teknologi biopharming, bertujuan untuk mengembangkan produk farmasi (enzim, hormon, vaksin, antibodi) melalui teknologi rekombinasi DNA pada tanaman tropis Indonesia. Berdasarkan kajian kebutuhan yang paling strategis, pilihan produk yang akan dikembangkan adalah monoklonal antibodi untuk diagnostik dan vaksin dengue. Sementara untuk produk-produk lainnya akan diusulkan melalui program RUSNAS, salah satu program insentif dari Kementerian Riset dan Teknologi.

Kedua program ini tidak dimaksudkan sebagai pengembangan obat secara utuh yang notabene memerlukan biaya besar dan waktu yang relatif lama, tetapi diarahkan sebagai peningkatan kompetensi teknologi maju ( state of the art ) dan dirancang untuk mendapatkan kemitraan dari lembaga riset internasional. Kemitraan antar lembaga riset sudah merupakan trend global, dimana pengembangan awal sampai dengan intermediate dilakukan oleh lembaga riset bioteknologi kecil atau menengah yang umumnya padat teknologi dan knowledge . Industri biofarmasi besar yang bersifat padat modal kemudian akan membeli paket teknologi tersebut untuk dikembangkan lebih lanjut pada skala industri global. Bagi industri biofarmasi besar, pilihan ini justru menguntungkan, karena memberikan efisiensi baik dari sisi biaya pekerja maupun resiko kegagalan riset awal. Kemitraan juga dapat berupa aliansi strategis, kontrak manufakturing maupun kotrak riset.

Selain itu, Tim Kedeputian TAB BPPT tengah menggodok Master Plan atau Roadmap “Bioteknologi 2010” yang merupakan cetak biru rencana detail jangka pendek pengembangan bioteknologi nasional untuk aplikasi bidang kesehatan, pangan, pertanian dan lingkungan sebagai sumbangan pemikiran bagi pengembangan bioteknologi nasional.

Peran BPPT lainnya adalah ikut aktif menjadi anggota tim pengembangan proyek Bioisland, juga aktif membina kerjasama dengan institusi nasional maupun internasional yang bergerak di bidang bioteknologi.


3. Rekomendasi

  1. Berdasarkan visi kedepan bahwa produk produk farmasi berbasis bioteknologi akan mendominasi pasar farmasi abad 21, juga kesiapan Sumber Daya Manusia potential dibidang bioteknologi serta ketersediaan sumberdaya hayati Indonesia yang memiliki keunggulan komparatif, sebaiknya Indonesia memposisikan diri sebagai pelaku aktif dalam mengisi peluang industri dan pasar produk sektor ini.

  2. Untuk menghindari persaingan yang berat dengan industri biofarmasi besar, Indonesia harus menentukan porsi ( niche ) produk yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan lokal atau substitusi impor.

  3. Networking antar institusi pelaku riset dan pengembangan bidang farmasi dan bioteknologi harus selalu diupayakan dan ditingkatkan guna memperoleh efek sinergis dari pemanfaatan kemampuan dan kapasitas yang ada.

  4. Indonesia perlu menjalin kerjasama atau aliansi strategis dengan lembaga riset maupun industri berbasis bioteknologi dari negara maju untuk memperoleh manfaat ganda, yaitu pendanaan riset, transfer teknologi, royalti dan HAKI dari produk yang dikembangkan. Untuk itu perlu disiapkan kebijakan dalam konteks access to genetic resources dan benefit sharing , dua hal yang merupakan daya tarik terhadap minat investor asing untuk mengembangkan industri farmasi berbasis boteknologi.

Menentukan prioritas pengembangan produk farmasi berbasis bioteknologi dengan memperhatikan keunggulan komparatif dan kemampuan nasional, misalnya produksi obat terpilih melalui teknologi molecular farming.