Creating Today The Technology for Tomorrow
   
 Telusur Inovasi
 Membership
 Download
 Tips & Trik Hobi

 
 

PUSTAKA IPTEK

Jurnal Saint dan Teknologi BPPT

Link Terkait:
[ Resensi Buku Ilmiah ]
[ Jurnal Saint dan Teknologi BPPT ]
[ Link Perpustakaan ]

VV

VV.B.08

JUDUL :
ANALISIS DIFUSI INOVASI TEKNOLOGI PENGECORAN LOGAM DI INDUSTRI KECIL & MENENGAH KLATEN-CEPER (Tinjauan Dari Aspek Kebijakan)

PENGARANG : Ugay Sugarmansyah, Dharmawan, Hartaya, Ruki savianto, Irawan Santoso
Pusat Pengkajian Kebijakan Difusi Teknologi 

Abstrak
Keberhasilan difusi inovasi teknologi paling tidak dipengaruhi beberapa elemen penting yang perlu dipertimbangkan yaitu (1) inovasi teknologi yang didifusikan harus memiliki manfaat bagi adopters (relative advantage), kemudian juga perlu dianalisis dari aspek compatibility, complexity, trialability, dan observability; (2) bagaimana inovasi tersebut dikomunikasikan; (3) difusi inovasi teknologi memerlukan waktu yang relatif beragam dan; (4) harus mempertimbangkan sistem sosial yang ada. Tulisan ini menganalisis aktivitas difusi inovasi teknologi cupola double tuyere dilihat dari empat elemen tersebut, sebagai bahan pertimbangan untuk merumuskan kebijakan peningkatan daya saing IKM.

Kata kunci : logam, pengecoran, industri kecol, industri menengah

SUMBER : 
Prosiding Seminar Teknologi untuk Negeri 2003, Vol. V, hal. 130 - 139 /HUMAS-BPPT/ANY


I. LATAR BELAKANG

Upaya melakukan pemberdayaan masyarakat dan seluruh kekuatan ekonomi nasional termasuk terhadap industri kecil dan menengah (IKM) pengecoran logam memerlukan keberpihakan dari pemerintah. Keberpihakan ini disamping untuk meredam kegagalan pasar (market failures) tetapi terutama diperlukan dalam upaya mengurangi keterpurukan akibat krisis ekonomi yang berkepanjangan. Industri kecil dan menegah (IKM) pengecoran logam di Ceper adalah contoh kasus, yang dalam batas-batas tertentu memerlukan keberpihakan tersebut. 
Berdasarkan Klaten Dalam Angka 1998 bahwa jumlah IKM pengecoran logam sebanyak 332, namun dengan adanya krisis ekonomi, diduga yang masih survive sekitar 30%. Meskipun ada penurunan yang cukup tajam, IKM pengecoran logam di Ceper ini masih berpeluang untuk meraih potensi pasar komponen pengecoran logam, hanya pesoalannya antara lain adalah diperlukan adanya sentuhan teknologi yang inovatif sehingga kualitas produknya memiliki daya saing yang tinggi. Oleh karena itu intervensi pemerintah melalui berbagai kebijakan diperlukan untuk mendorong IKM pengecoran logam Ceper mau mengadopsi atau mendifusikan hasil inovasi teknologi.
Di dalam tulisan ini akan di analisis aktivitas difusi inovasi teknologi tungku cupola double tuyere di IKM pengecoran logam Ceper-Klaten.


KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

KM pengecoran logam Ceper merupakan aset negara yang peranan relatif cukup besar dalam menghasilkan produk besi cor Indonesia. Namun teknologi pengecoran logam di Ceper yang sebagian besar memakai teknologi tungkik menghasilkan kualitas produk coran yang relatif rendah dan kurang efisien, sehingga produk yang dihasilkan akan sulit bersaing dengan produk dari luar negeri terutama dalam menjelang pasar bebas. Padahal IKM pengecoran di Ceper ini masih berpeluang untuk meraih potensi pasar komponen pengecoran logam, hanya pesoalannya antara lain adalah diperlukan adanya sentuhan teknologi yang inovatif sehingga kualitas produknya memiliki daya saing yang tinggi.

BPPT bekerjasama dengan Laboratorium Pengecoran Logam di Ceper dan dengan tenaga ahli dari Jepang (JICA) mendifusikan tungku Cupola double tuyere atau disebut divided blast cupola. 

Paling tidak ada beberapa elemen penting yang perlu dipertimbangkan di dalam mendifusikan yaitu (1) inovasi teknologi yang didifusikan harus memberikan manfaat bagi adopters baik secara teknis maupun ekonomis (relative advantage), kemudian juga dilihat dari aspek compatibility, complexity, trialability, dan observability; (2) bagaimana inovasi tersebut dikomunikasikan; (3) difusi inovasi teknologi memerlukan waktu yang relatif beragam dan ;(4) harus mempertimbangkan sistem sosial yang ada.

Persyaratan kemungkinan berhasilnya difusi teknologi cupola double tuyere tersebut pada aspek inovasi teknologinya sebagian besar sudah dipenuhi. Inovasi yang diintroduksikan relatif memberikan manfaat kepada early adopters atau memberikan manfaat yang relatif lebih baik bagi IKM pengecoran (relative advantage). Demikian juga dari aspek compatibility, complexity, trialability, dan observability. 
Di dalam mengkomunikasikan inovasi teknologi ini pada tahap introduksi awal yang diterima oleh mitra BPPT yang early adopters melalui pendekatan inter-personal nampaknya relatif cukup efektif dalam mempengaruhi pengusaha tersebut untuk menerima inovasi. Namun di dalam mendifusikan inovasi teknologi cupola double tuyere ada kebiasan-kebiasaan yang ada di IKM yang mungkin menghambat proses transfer teknologi, oleh karena itu secara evolutif masalah ini perlu diperbaiki.

Ditilik dari permasalahan harga tungku yang relatif mahal, nampaknya pemasyarakatan teknologi cupola double tuyere ini secara lebih ekstensif mungkin memerlukan waktu yang cukup panjang. Namun diperkirakan potensi adopters yang bisa relatif lebih cepat mengadopsi inovasi teknologi oleh IKM pengecoran logam di Ceper melalui mekanisme pasar cukup besar.

Meskipun difusi inovasi teknologi tungku cupola double tuyere ini pada tahap selanjutnya dapat diserahkan kepada mekanisme pasar, namun untuk mempercepat dan mendorong difusi inovasi teknologi tersebut di IKM pengecoran logam di Ceper terutama bagi calon early majority, pemerintah baik di daerah maupun pusat perlu memberikan sistem insentif, kemudahan-kemudahan dalam mengakses kredit dan informasi & asuransi teknologi, technical assistance serta adanya kebijakan fiskal termasuk keringanan pajak, dan dukungan kelembagaan dalam menjaga sustainability program. Upaya-upaya ini sebagai wujud keberpihakan pemerintah kepada IKM untuk meningkatkan daya saingnya.